HanieAgung
  • Home
  • About Me
  • Contact Me
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

 Februari 2020 pernah kualami sakit yang seperti circle dalam rumah. Setiap anggota keluarga mendapat giliran. Kemudian muncullah yang namanya covid 19 di Indonesia dengan diketemukannya pasien pertama waktu itu.

Bulan februari 2022 circle itu terulang lagi dan sudah banyak orang menceritakan hal yang sama dan sakit  yang sama. Yap badan terasa panas, seperti ditusuk-tusuk itu beberapa orang merasakan. Kemudian leher yang sakit dan susah untuk menelan bahkan ludah sekalipun.

Setelah itu yang dirasakan adalah badan sakit sampai tulang. Dingin yang menusuk sampai tulang. Kemudian mulai sumeng, meriang dan pilek melanda sampai akhirnya sang batuk datang.

Banyak yang bilang gejala varian baru covid yaitu : omicron gejalanya seperti yang telah disebutkan di atas. Sehingga semakin bertambahlah pasien positif di negeri ini. 

Seminggu yang lalu aku pun merasakan yang sama. Berawal dari gigi bungsu yang mau tumbuh hingga membuat gusi terasa sakit yang sangat. Kurang tidur juga malam sebelumnya karena mendengar tikus kecil yang terperangkap tetapi tidak bisa aku pindahkan. Mana suaranya riuh bener itu tikus.

Alhasil berhasil membuatku tidur hanya sebentar. Kemudian siang hari ada acara bersama keluarga. Pulang sebentar kugunakan untuk tidur. Rencananya Yap rencana hihi ternyata aku antara tidur dan tidak. Sehingga mulai terasa badan kurang enak lalu datanglah si sakit gigi.

Sore hari ke Cibinong naik motor bertiga. Sampai rumah saudara pukul 18:00 kami pun makan karena acara pengajian akan dimulai setelah Magrib.  

Acara pun dimulai dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil lalu doa. Kemudian ustadz yang kedua mengisi tausiyah. Anakpun sudah mulai rewel. Akhirnya kuserahkan ke suami supaya tidak bosan. 

Sakit gigi mulai terasa lagi kali ini diiringi rasa badan yang panas dan punggung yang seperti ditusuk-tusuk hawa dingin. Karena sudah tidak sanggup akhirnya aku telpon suami supaya kami ijin sama tuan rumah untuk pulang lebih dahulu.

Akhirnya kami pun di parkiran motor tetapi aku malah jackpot karena terasa mual. Setelah suami membersihkannya lalu kami pun pulang naik motor.

Sampai rumah aku bersih-bersih badan dan ganti baju langsung ke kasur karena sudah tidak kuat menahan sakit dikepala, kaki dan tangan. Kata suami tidurku sering mengigau. Pagi jam 10:00 aku baru bangun. Kupikir enakan ternyata kepala masih terasa sakit dan berat. Badan semua terasa sakit. Meskipun gigi sudah tidak terasa lagi cenat cenut nya.

Suami selalu bertanya aku makan apa? Karena beliau hafal kalau susah makan jika diriku kondisi begitu. Bagiku sih yang penting makan pakai kuah yang panas dan pedas (meskipun pedasnya bagi orang lain mah tidak terasa apa-apa) hihi.

Alhamdulillah suami setiap pagi dan sore menyiapkan air hangat untuk mandi, makan pun disiapkan, belum lagi air putih hangat dan teh panas. Karena memang aku tidak bisa minum obat.

Jadi ya minum tolak angin. Kencur. Sedangkan pada waktu leher terasa sakit yang sangat di hari Kamis malam itu suami membelikan permen penghilang rasa sakit leher. Jumat Alhamdulillah agak enakan meskipun masih susah untuk menelan. Tapi nafsu makan sudah mulai ada.

Anehnya saat sakit begitu perasaan tambah pusing kalau baca tulisan di gawai. Alhasil selama sakit kujauhi my smartphone. Daripada malah bertambah pusing karena tulisan pada berbayang dan kabur hihi.

Banyak teman menyarankan untuk test antigen ataupun pcr tetapi mikir uang darimana untuk test haha jadi memilih isolasi sendiri dan menjaga jarak serta memakai masker meskipun dirumah itulah yang kupilih. 

Alhamdulillah Allah Maha Baik dan Pemberi obat. Diberinya aku dua dokter terbaik yang membantu kesembuhanku dengan cara mereka masing-masing. 

Terimakasih untuk suami dan anakku tercinta ❤️🥰

Aku termangu menatap jendela yang basah oleh hujan dari pagi yang mengguyur bumi. Kuhela nafas untuk sedikit mengurangi beban pikiran yang tengah menggelayut dalam benakku.

Entahlah..

Aku tidak habis pikir saja. Bingung. Sedih. Yap semua jadi satu.

Aku sampai di titik kepada siapa aku harus percaya. Setiap langkahku ditanyakan kemudian dengan ringan semua orang akan tahu yang pada akhirnya mengguncingkanku.

Harusnya aku bahagia kan ya? Mengapa? Karena pahala mereka kan untukku tetapi yang kurasa malah sedih. 

Yap. Sedih karena tidak ada lagi yang bisa kupercaya.

"Rani makan dulu nak!" Ibu memanggilku untuk makan siang lalu akupun berjalan menuju ruang makan.

***

Aku memang menceritakan atau curhat lah ke teman atau saudara tetapi hasilnya malah bocor kemana-mana. 

Bagaimana aku tahu?

Tidak sengaja kuketahui semua itu ketika salah seorang teman main ke rumah kemudian kami terlibat perbincangan seru yang akhirnya menyerempet ke diriku.

Kaget? Jelas 

Kesal ? Iya 

Marah ? Banget 

Semua perasaan itu aku tutup di depan temanku. 

Saat berkumpul saudara pun ternyata terjadi hal yang sama. Kupercaya pada salah satu saudara untuk curhat ternyata yang lain pun juga tahu.

Lalu aku harus percaya sama siapa? Salah tidak sih jika aku curhat atau sekedar mengeluarkan isi hati.

***

"Rani mengapa kamu diam saja?" Tanya Dian sahabatku.

Yap sejam yang lalu aku dengar lagi cerita tidak menyenangkan. Teman yang kupercaya dan rela membantuku ternyata hanyalah kamuflase. Dian mengatakan kepadaku karena dia tidak terima diriku di gosipkan diantara para sahabatku yang ternyata saling sahut menyahut mengenai diriku.

Astaghfirullah. Tidak menyangka saja. Sebenarnya aku tidak menelan mentah cerita Dian tetapi memang kumenyadari gelagat itu. Perubahan sikap serta di nonaktifkannya diriku supaya tidak dapat melihat story' wa mereka. 

Aku tidak memaksa orang supaya suka padaku. Ya beginilah diriku. Kalian suka Alhamdulillah tidak pun juga Alhamdulillah. 

Kusesalkan hanya mengapa di depanku berbeda dengan saat di belakangku. Untuk apa dan untungnya apa coba?

Hahaha tawaku yang garing membuat Dian menepuk pundakku.

*** 




 "Pokoknya adik mau menginap rumah bude!" Rengek anakku untuk yang kesekian kalinya.

"Tapi nak," belum selesai aku bicara gawaiku berbunyi ramai sekali. Kuangkat benda mungil yang menjadi penghubungku dengan dunia luar.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Salamku begitu menjawab telepon.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, say apa kabar?" suara bernada bariton terdengar dari gawaiku.

Kubingung siapa sih ini orang main  say, say emangnya aku bonsai, gerutuku. Di lain sisi anakku sudah menarik-narik gamis lusuhku yang sudah kehilangan warna aslinya.

Ingin kututup telepon itu akan tetapi ada rasa penasaran yang menggelitik sanubari. 

"Maaf ya saya bukan bonsai." Kututup pembicaraan karena anakku sudah mulai merajuk lagi.

"Adik mau ke rumah bude?" Tanyaku.

"Iya." 

"Insya Allah ya dik, tunggu bapak pulang bawa rizqi dari Allah untuk kita ya." Sahutku sambil tersenyum.

"Bu, adik sudah kangen bude." 

"Iya dik. Jangankan adik, Ibu juga kangen dengan bude. Minta dimudahkan sama Allah ya."

Bocah 4 tahun itu menadahkan tangannya dan mulutnya komat-kamit seperti berdoa. Masya Allah nak.. maafkan ibu dan bapak.

Gawaiku berdering kembali. Kulihat tidak ada nama dan hanya nomer saja yang tertera di layar gawaiku.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Siapa ya ?"

"Waalaikumussalam.. kamu sudah lupa padaku?" Lagi-lagi suara itu.

"Maaf mungkin Anda salah sambung!" seruku sambil menutup telepon.

Kumencoba menggali memoriku tentang siapa orang itu. Memang sudah hampir satu Minggu orang yang entah siapa dia meneleponku dengan nada yang sama.

Kutidak menemukan meskipun sudah mencacah dan menggali memoriku.

Suamiku pulang sudah larut tidak seperti biasanya. Setelah bersih-bersih dan menunaikan salah isya, bapaknya anak-anak minta diambilkan makan.

Segera kusiapkan masakan yang sudah kuhangatkan di atas kompor. Setelah kupindahkan ke dalam mangkuk lalu kusajikan di hadapan suamiku.

Suamiku tersenyum kemudian menyantap masakan sederhana yang kumasak sore ini.

Selesai makan, kucuci semua piring dan gelas yang belum dicuci anak tertuaku. 

"Bu, ada telepon!" Seru suamiku.

"Siapa Pak?" Seruku. Nanggung soalnya kalau ditinggal acara mencuci piringnya.

"Tidak tahu Bu, tidak ada namanya." Ternyata suamiku menyusul ke dapur dan menyerahkan gawaiku.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." 

"Waalaikumussalam. Selamat tidur cantik."

Deg.

Kudiam mematung. Diakah yang telepon? Setelan sekian purnama tidak ada kabar berita.

Telepon ditutup sebelum kumenjawab.

Ya Allah. 

Suamiku heran dengan sikapku.

"Ada apa Bu?" tanyanya lembut. 

'Tidak ada apa-apa, Pak."

"Ya sudah. O iya adik masih merengek minta ke tempat budenya?"

"Iya Pak."

Sekarang giliran suamiku yang terdiam. 

****

Pagi yang cerah..

Gawaiku berbunyi. Kulirik dan kumemilih tidak menjawabnya. 

Nomer yang sama.

Tiga kali si pemilik nomer yang tertera di layar gawai itu kembali membuat pesawat komunikasiku itu bergetar.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." 

Kupilih menjawab telepon itu dan hendak menjawab penasaranku benarkan dia yang selama seminggu ini menerorku.

"Waalaikumussalam say."

"Maaf jika tidak ada kepentingan jangan telepon lagi ke saya. Nomer anda akan saya blokir."

"Kamu masih saja suka marah ya say." Ujar suara di seberang sambil tertawa.

Huh. Aku mulai kesal.

"Kamu benar-benar melupakanku. Karena sudah menikahkah sehingga lupakan aku?" 

Kudiam lalu kututup telepon.




















 Awalnya mengetahui kegiatan atau acara WRAD dari postingan read aloud yuk. Kemudian penasaran apa itu World Read Aloud Day. 

Tanggal 3 Februari diperingati sebagai hari membacakan nyaring sedunia. Mengingat begitu banyak manfaat read aloud maka muncullah ide mengenai wrad ini.

Banyak rangkaian kegiatan yang digelar menjelang world read aloud day salah satunya yang diadakan oleh @readaloudyuk yaitu challenge 21 hari keluarga membacakan nyaring.

Sempat ragu bisa tidak ya mengikuti challenge ini apalagi untuk tahun ini juga melibatkan anggota keluarga lainnya selain ibu dan setiap pekan ada teka-teki yang harus dipecahkan untuk menemukan tema selama sepekan.

Keraguanku karena Abi waktu kerjanya tidak menentu setelah efek pandemi dari tahun 2020. Mengingat esensi dan tujuan read aloud challenge ini untuk meningkatkan minat baca dan literasi maka kudaftarkan diri mengikuti tantangan 21 hari keluarga membacakan nyaring.

Memasuki wag grup 1 RAC ternyata baru sedikit yang mendaftar tetapi dalam hitungan jam saja sudah full orang tua yang antusias mengikuti challenge ini. Masya Allah.

Untuk tahun ini ada yang berbeda dalam tantangan yaitu adanya tema dengan terlebih dahulu menjawab teka-teki sebanyak 7 pertanyaan yang merupakan tema harian selama sepekan.

Pekan 1 teka teki berupa menjawab pertanyaan mendatar dan menurun. 


Untuk tema boleh di acak tidak harus urut. Jadi yang kulakukan yaitu menentukan tema harian meskipun kadang juga bertanya kepada Agha untuk memilih tema dan judul buku yang akan dibaca dari aplikasi let's read. 

Tema pekan pertama : 
❤️Hari 1  Hobi, judul buku : Tulu belajar memotret, penulis : Phal Thitlyhong.
❤️Hari 2 Bumi, judul buku : Dimana Tempat Tinggal Tita, penulis : Sean Henrick Moore.
❤️Hari 3 Tehnologi, Judul buku : Senter Mango, penulis : Nha Tuyen.
❤️Hari 4 Keluarga, judul Buku : Jalan Pulang, penulis : Nha Thuyen.
❤️Hari 5 Toleransi, judul buku : Hidup dalam Harmoni, penulis : Myint Cho.
❤️Hari 6 Cuaca, Judul Buku : Saat Hujan Turun, penulis : Ade Chyntia.
❤️Hari 7 Budaya, judul buku : Tarian Sunyi, penulis : Sarah Fauzia.

Untuk tema pekan kedua juga mengerjakan teka-teki terlebih dahulu. Kali ini jawabannya kita mencari dalam huruf yang diacak 


Tema dalam pekan ini pun boleh diacak atau tidak berurutan. 
Tema pekan kedua dan buku yang dibacakan nyaring dari @let'sreadIndonesia :
❤️Hari 8 Bencana Alam, Judul : Saat Banjir Datang, penulis : Witaru Emi
❤️Hari 9 Diriku, judul : All by Myself, penulis : Novita Elisa Fahmi.
❤️Hari 10 Pahlawan, Judul : Manusia Super Penyelamat Kucing, penulis : Mai Phurong.
❤️Hari 11 Kendaraan, judul buku : Naik Bendi, penulis : Khairani.
❤️Hari 12 Sekolah, judul buku : Hari Pertama di Sekolah, penulis : Adrinalia Nila.
❤️Hari 13 Cita-cita, judul Buku : Jadi Apa Ya, penulis : Nabila Adani.
❤️Hari 14 Makanan, juduk buku : Menunggu apa Mas? Penulis : B.E. Priyanti.

Bersambung... 


 


Hampir lupa sebenarnya kalau tidak menerima notifikasi dari Facebook bahwa tanggal 19 Januari 2022 klip akan ulang tahun yang ketiga.

Padahal sudah diingat-ingat waktu di wag Klip setelah wisuda mengenai data atau fakta mengenai angka 19.

Hal tersebut dijelaskan oleh Mba Santi yang  sekarang menjabat sebagai wakil ketua Ekternal. Sudah kubaca dan kuingat tetapi kok ya aku tetap lupa.

Alhamdulillah aplikasi yang terkenal dengan logo huruf F warna biru ini memberikan notifikasi dari fbg kelas literasi ibu profesional bahwa akan ada perayaan virtual.

Sudah tidak sabar karena akan berjumpa dan ngobrol lagi dengan para punggawa KLIP yang tidak hanya dari Indonesia tetapi juga yang tinggal di luar negeri.

Dari pukul 15:20 aku sudah klik link zoom klip haha niat amat ya. Masih belum bisa masuk tentu saja karena aku bukanlah host hihi.

Pukul 16:00 gerbang zoom mulai terbuka. Lagu dari Jamrud yang berjudul : selamat ulang tahun mengiringi masuknya satu per satu keruangan klip.

Dua host keren sudah menunggu yaitu mba Wika dan mba Irene. Meskipun keduanya tinggal di luar negeri tetapi mereka semangat 45 lho.

Video pembukaan mengenai klip dan pengurus menambah seru karena para penulis top yang berderet dijajaran kepengurusan.

Ketika mba Santi menceritakan mengenai asal muasal angka 19. Skripsi 19.000 kata, penetapan tanggal 19 Januari 2019 sebagai hari lahir klip tiga tahun yang lalu. Juga cerita mengenai sejarah terbentuknya klip. 

Setelah itu giliran Mba Erna selalu ketua Klip. Beliau menjelaskan mengenai Klip tahun 2022 dengan program-program barunya yang berbeda dengan 2021 juga menjelaskan kepada anggota baru mengenai apa yang menyebabkan gugur dan tidak terdaftar di data setoran.

Kemudian diisi dengan q n a dimana ada beberapa peserta yang bertanya dan Alhamdulillah mba Wika dan mba Irene menjawab dengan tepat dan mudah dipahami.


Foto bersama pun dimulai melihat peserta yang sudah mulai banyak memenuhi ruangan dan setia stay mengikuti rangkaian anniversary Klip ketiga

Para pengurus lain pun diberi kesempatan untuk memaparkan program dan mengenalkan kepada member seperti : review buku, podcast, TTM dan program lainnya.

Jelas dan mudah dipahami itulah yang kutangkap saat pemaparan program dik Klip.

Untuk telegram akan ada dua yaitu khusus info dan yang untuk diskusi dimana nantinya hanya 99 orang saja.

Perjuangan berat juga ya supaya masuk ke telegram diskusi ini. Karena ada beberapa syarat sih untuk bisa masuk. 

Banyak hadiah juga bertaburan di acara ulang tahun klip kali ini. Ada 9 peserta zoom yang memenangkan door prize. 

Alhamdulillah acara ulang tahun klip ini meriah dan banyak dihadiri oleh anggota klip. 

Semoga semua anggota klip 2022 ini lulus wisuda dan menyelesaikan challenge dengan baik aamiin 🤲🏻






Menginjakkan kaki pertama di rumah ini tahun 2008 akhir. Heran dengan kebisingan yang ada.

Begitu memutuskan ikut suami tinggal di rumah ini September 2019 artinya bersahabat dengan kebisingan, kemacetan, lawan arah, pintu kereta dengan krl yang melintas setiap 2-3 menit sekali. Wow 

Aku biasa tinggal di tempat yang lumayan sepi tanpa hingar-bingar suara klakson, suara cacian orang bahkan suara orang bertengkar, ataupun suara orang yang mau demo.
Komplit dan kompleks.

Suara kereta yang tidak hanya harus diakrabi tetapi juga getaran setiiap .kuda besi itu melewati jalur depan rumah.

Belum lagi suara knalpot dan suara motor yang sengaja diraungkan dan dipacu kecepatannya hingga memekakkan telinga.

Suara pengamen yang keliling dengan gerobak musiknya menambah kesahduan yang membuat telinga benar-benar teruji.

Keriuhan 24 jam seperti konser acara Akbar yang tidak pernah sepi. Seolah warganya tidak pernah tidur. 

Jadi inget sebutan untuk kota Jakarta yaitu kota yang tidak pernah tidur.

Hal tersebut memang benar adanya. Selama disini hanya sesekali jalan sepi itupun karena ada pejabat yang akan lewat jadi kadang jalan dikosongkan sementara.

Kadang ngobrol pun perlu speaker kalau aku bilang soale harus teriak-teriak alias volume dinaikkan hahaha. 
Mengapa? Untuk melawan riunya suara konser crowdednya jalan depan rumah.

Belum lagi jika ada yang harus berciuman antar kendaraan itu membuat kaget dan was-was karena  berujung dengan perdebatan antar pengemudi. 

Itulah keseharian di sini. Welcome dengan konser suara klakson dan knalpot serta sirine ambulan dan mobil polisi. Jangan membayangkan suara jangkrik yang syahdu ya🤭 karena suara itu tidak akan terdengar hihi.

Plus jika ada orang yang bertengkar di depan ataupun orang yang marah karena merasa benar padahal dia yang melawan arah. 

Pertama di sini ya kaget juga haha 
Apalagi bgini riweh dan riuh rendah
 Suara pengamen saja kadang kalah dengan suara gardu kereta jika memberi tanda kereta akan lewat. 

4 jalur mobil dan 2 jalur kereta seolah pemandangan indah dengan mobil dan kereta sebagai penghiasnya

 Mengapa harus takut dengan penilaian orang? Mengapa menggunakan standar orang lain untuk menentukan kebahagiaan?

Yap pertanyaan itu yang bergelayut di benak Bela. Banyak orang yang menganggapnya masih kecil dan tidak akan mampu diberi tanggung jawab yang besar. 

Lalu kapan aku dewasa jika seperti ini, batin Bela masgul. Setiap hal yang akan dia lakukan memang dia cenderung bicarakan dengan keluarga atau saudara alias mufakat yang dia tuju bukanlah ingin pamer ataupun alasan lain.

Hanya ingin menghargai pendapat orang lain dan supaya mereka merasa didengar dan dianggap ada. Akan tetapi yang tidak habis pikir Bela mengapa itu malah menjadi bumerang buatnya.

Bahkan ketika dia sudah menikahpun masih disetir orang lain yang menganggap hal itu adalah benar tanpa mengindahkan perasaan dan kemauan Bela yang mungkin mempunyai rencana dan perhitungan lain.

Semua berubah terasa sejak mertuanya meninggal dunia. Bela merasakan itu tetapi lebay kata suaminya dan Bela terlalu terbawa perasaan. 

Bela hanya bisa berserah diri kepada pemilik dirinya. Allah tidak tidur. Allah sebaik-baik pemilik rencana. Cewek cantik itu menyadarinya tetapi orang lain belum tentu sadar akan hal tersebut.

Ikut mengatur dengan embel-embel lebih kaya pengalaman dan makan asam garam kehidupan tanpa mengindahkan bahwa Bela punya pendapat, rencana maupun tujuan hidup.

Bela sebenarnya sudah punya plan yang sudah siap susun, agenda yang sudah dia buat jadwal kegiatan tetapi semua itu dianggap nothing dan hanya menjadi bahan obrolan orang lain.

Sakit tidak berdarah yang lebih susah untuk sembuh memang meskipun sudah berusaha mencari obatnya. 

Jika plan salah satu berhasil maka akan mengatakan ke banyak orang karena saya, Bela jadi a, b, c padahal gadis berjilbab itu mungkin masih tahap menyusun.

Ah.. entahlah..

Meskipun sudah berulang kali dibilang kalau Bela mampir akan tetapi mereka tidak mengindahkan. 

Menganggap Bela masih anak kecil yang butuh terlindungi meskipun bela tidak merasakan itu..

Semua akan membanggakan diri kalau dialah yang berjasa. Ah lagi-lagi Bela menarik nafas panjang.  Mengapa haus akan sanjung dan puji? 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Author

Author
Pembelajar yang suka tantangan, tapi agak takut mengambil resiko. Suka bertualang, terutama dengan anak lelaki kesayangan, dan menuliskannya ke dalam tulisan. Read more about me at "About Me" on the menu.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tarawih hari Pertama
  • Review Buku Khadijah
  • Jadul resepnya milenial rasanya
  • Berkelana dalam Lautan Ilmu Penulisan
  • Pejuang 2 Garis
  • Mobil Balon
  • Saldo Rindu yang Minus
  • Kabar dari Solo
  • Perjalanan Syukurku di 2021
  • BRImo Sebagai Bentuk Layanan dan Digitalisasi Bank BRI
Diberdayakan oleh Blogger

Laporkan Penyalahgunaan

  • Oktober 20251
  • Oktober 20241
  • Agustus 20241
  • Juli 20243
  • Juni 20242
  • November 20231
  • Oktober 20231
  • September 20231
  • Agustus 20232
  • Mei 202315
  • Maret 20231
  • Oktober 20221
  • September 20221
  • Agustus 20229
  • Juli 20222
  • Juni 20229
  • Mei 20229
  • April 20228
  • Maret 202213
  • Februari 202211
  • Januari 202219
  • Desember 20211
  • November 20218
  • Oktober 202113
  • September 202115
  • Agustus 202110
  • Juli 202113
  • Mei 202114
  • April 202127
  • Maret 202112

Trending Articles

  • Tarawih hari Pertama
  • Review Buku Khadijah
  • Jadul resepnya milenial rasanya
  • Berkelana dalam Lautan Ilmu Penulisan

Copyright © Foodicious Theme. Designed by OddThemes