HanieAgung
  • Home
  • About Me
  • Contact Me
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Pukul 09:00 wib para peserta zoominar Mengenal HAKI Lebih Dekat yang diselenggarakan oleh Gerakan Binar dengan Sidina Comunity sebagai media partner, mulai memasuki kelas dengan tertib. Setelah 09:05 kumulai dengan membuka acara sebagai host dan moderator pagi itu. 

Awalnya grogi lagi meskipun sudah beberapa kali menjadi pembawa acara. Setelah mengucapkan selamat datang dan mengawali dengan berdoa, acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua Binar yaitu Bunda Setyorini dan juga Bunda Susi selaku ketua Sidina comunity.

Alhamdulillah sambutan pun dibawakan dengan lancar dan mengalir indah. Kemudian aku pun membacakan CV ataupun pengalaman hidup dari pemateri yaitu Mba Isti Budi yang Masya Allah sampai 4 halaman. Aku ringkas saja untuk pembacaan CV beliau karena memang permintaannya untuk tidak membaca secara detil daftar riwayat hidupnya.

Setelah pembacaan CV kemudian kuundang mba Isti dan kusapa beliau yang kemudian langsung bertindak sebagai pemateri.

Awalnya memang agak berat karena berkaitan dengan hukum dan sangsi pelanggar HAKI. Macamnya dan bagaimana cara mendaftarkan. Cara mba Isti yang easy going dan memaparkannya enak serta mudah dipahami membuat semua peserta merasa puas dengan penjelasan materi yang disampaikan.

Indonesia ternyata masuk dalam kategori yang parah dalam hal pembajakan. Sering banyak hak cipta dilanggar karena merasa tidak merugikan padahal pada kenyataannya sangatlah merugikan bagi si pembuat.

Contoh mengambil gambar dari google dengan cara langsung menangkap layar tanpa menyertakan sumber dan siapa yang membuat. Meskipun gratis tetaplah menuliskan itu diperoleh dari mana itu sebagai langkah kecil kita menghargai hasil karya orang lain.

Font, foto, film, dan gambar serta materi atau artikel yang sering tertangkap layar kita karena keisengan dua jari jempol tangan kita.

Sudah seyogyanya kita menghargai hasil karya orang lain dengan kulonuwun atau minta ijin jika memang dalam artikel atau gambar tersebut terdapat profil dari si pembuat. Ada beberapa kode yang harus dipelajari supaya tidak membuat kita salah dalam melangkah dan main tangkap layar tanpa ijin. 

Kalau bukan dimulai dari kita siapa lagi yang akan memulai. Memulai dengan langkah kecil seperti bijak menggunakan dua jempol tangan untuk mengetik sumber dan si pembuat hasil karya. Mengajarkan kepada anak-anak dan suami juga sebagai langkah awal untuk mengenalkan hak cipta dan menghargai karya orang lain. (AH)

Sewaktu kecil jika pergi ke kondangan atau jagong (jika menghadiri undangan pernikahan di Solo) maka ibu akan menawarkan untuk memberikanku bedak Viva bubuk alias loose powder yang dibungkus plastik kemudian dituang ke tangan sedikit lalu diusap di kedua tangan dan disapukan ke wajahku. Tak lupa lipstik pun dioleskan ke bibirku. Saat itu aku takut sekali jika lipstikku hilang karena makan atau minum hihi. 

Kadang sambil mendesis mulut untuk menahan tidak mengatupkan bibir hanya karena takut lipstiknya hilang dari bibir. Ya Allah kalau mengingat itu membuat ingin tertawa.

Pamer dan bangga gitu memakai bedak dan lipstik apalagi jika melihat teman sebaya yang tidak pergi kondangan.

Berdandan itu merupakan barang mewah buatku waktu itu karena boleh memakai hanya saat kondangan ataupun sedang ke desa tempat kelahiran bapak. Yap memang seringnya aku di ajak ke tanah tumpah darah bapak daripada ke desa ibu. Katanya sih karena wanita yang melahirkanku tersebut kelahiran Solo jadi Solo lah tanah kelahiran hihi.

Balik lagi ke masalah make up. Lanjut ke sekolah menengah pertama aku natural saja ke sekolah paling bedak bayi. Sedangkan waktu sekolah lanjutan atas kumemakai bedak bayi yang sudah memproduksi bedak padat untuk remaja yang katanya mengandung squalan. 

Saat kuliah memang aku termasuk yang natural sendiri karena hampir semua mahasiswi berdandan lumayan tebal bahkan ada juga yang make up-nya seperti mau tampil di panggung untuk bergoyang dangdut. Kalau sudah berkumpul tidak lain dan tidak bukan yang diobrolin masalah bedak dan lipstik yang digunakan apa hehe.

Pernah teman dari kampus lain bilang temenku kalau dia menyebutku si "Logos face" ada-ada saja memang. Entah mengapa waktu itu ku males berdandan. 

Kemudian ku coba untuk memakai make up lagi ketika Anis dan Wati, duo sahabat yang mengajakku mengikuti beauty class Belia. Berawal dari situ kumencoba kembali mengaplikasikannya di wajahku dengan berdandan sendiri dan mulai melengkapi peralatan make up dengan menyisihkan uang jajan.

Waktu itu yang kupakai adalah L'oreal sebagai pelembab dan Mustika ratu untuk bedaknya meskipun untuk bedak ini kadang aku ganti-ganti merk.

Mengenal la tulipe aku pun beralih haha setelah harga Loreal naik. Kemudian beralih ke biokos ketika mulai bekerja. 

Kemudian beralih ke make up yang halal tetapi berhenti bermake up setelah hamil sampai now hihi 

Aku mengenal istilah ini setelah ikut dalam suatu komunitas. Betapa perlunya keluar dari zona nyaman ini bagi ibu rumah tangga. Pemasaran apa sih arti kata itu, kumeluncur ke dunia Maya. 

Membaca tulisan dari Dyah Ayu Lestari di hello sehat, Istilah “zona nyaman” pertama kali dipopulerkan oleh Alasdair White, seorang pencetus teori manajemen bisnis pada tahun 2009. Menurutnya, zona nyaman adalah keadaan saat segalanya terasa akrab dan mudah sehingga Anda tidak mengalami banyak stres. 

Kadang terlalu nyaman ini membuat kita menjadi terlena. Lalu bisakah seorang ibu rumah tangga keluar dari nyamannya ?

Jawabannya bisa banget.

Seorang ibu dengan segudang aktivitas yang mungkin tidak akan pernah selesai bahkan waktu 24 jam mungkin terasa kurang. Hal ini membuat stres dan akibatnya malah bisa lebih parah jika tidak dapat mengelola emosi dan tingkat kesetresan maupun ekspektasi.

Keluar dari zona nyaman seorang ibu memang tidak harus hang out ataupun me time yang menghabiskan dana besar. Bisa juga dengan cara produktif, berkarya dan berdampak.

Sedekah ilmu yang dimiliki juga merupakan salah satu cara healing dan keluar zona nyaman lho. 

Mengikuti komunitas yang membawa dampak positif akan berpengaruh dalam pola pengasuhan, membersamai keluarga dan memanaj tingkat stres. 

Kasus yang hangat saat ini yaitu seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya karena takut buah hatinya mendapat bentakan maupun pukulan seperti yang pernah dialaminya merupakan luka batin dari sakitnya hati di masa kecil. Inner child yang belum sembuh ditambah ekonomi yang semakin hari semakin menghimpit serta support sistem dari orang sekitar termasuk pasangan yang tidaklah dia dapatkan membuatnya memilih bujukan setan untuk melakukan hal tersebut.

Miris memang. Dari sisi psikologis mungkin tekanan demi tekanan yang tidak bisa dia keluarkan, dia pendam, dia pupuk menjadi luka tak berdarah yang semakin hari semakin membesar tanpa disadari. 

Perasaan sendiri, takut dengan masa lalu dimana mungkin dengan disiplin tinggi ataupun ketidakberdayaannya karena harus dituntut nurut tanpa membantah. 

Merasa tidak baik jika menceritakan apa yang dia rasa karena ketakutan membuka aib, lingkungan pertemanan yang cenderung memojokkan dan tidak mau mendengar, kekerasan fisik dan batin yang belum sembuh dan mungkin masih ada lagi yang lain. 

Hanya Allah yang tahu apa sebenarnya yang dialami ibu tersebut.

Pernah juga di Bandung seorang ibu yang terbilang cukup dan mungkin lebih agamanya tetapi tega membunuh anaknya dengan memberikan racun di makanan anaknya. Alasannya karena takut tidak bisa memberikan fasilitas maupun pendidikan seperti yang dia dapat. Lagi-lagi alasan ekonomi dan ketakutan-ketakutan yang entah dari luar ataupun terlalu tingginya harapan. 

Dengan keluar dari zona nyaman, baik melalui komunitas maupun pertemanan yang positif bisa jadi membuat mata lebih terbuka.elihat dunia luar dengan lebih bijak, banyak yang senasib tetapi bisa survive, aktualisasi diri tanpa melupakan tugas dan kewajiban serta selalu ingat bahwa Allah tidak tidur dan Maha Kaya. 

Keluar zona nyaman tanpa melupakan keluarga yang membuatnya nyaman, bahagia dan menerima apa adanya tanpa ada apanya. (AH)

Dalam setiap komunitas kadang ada bahasan mengenai bagaimana hubungan dengan suami atau mertua.

Dari sekedar handuk basah dimana suami lupa meletakkan hingga masalah pengasuhan anak. 

Biasanya aku baca saja chat yang masuk. Kadang ada yang gemes, marah tapi tertawa, bahkan ada yang sedih karena suami mengulang kebiasaan yang sama.

Aku berpikir bagaimana ya kalau suami juga mempunyai komunitas bapak-bapak. Selain hobbi apakah juga akan bergosip atau melempar suatu masalah yang sama untuk sekedar pada berbagi atau sharing.

Lucu kali ya misalnya bapak-bapak alias para suami juga "ngomongin istrinya" yang mungkin jika istri tahu dia akan marah ,🤭🤣

Saat aku di-tag untuk cerita nah aku bingung dong karena aku yang lebih banyak kurangnya malahan 🤭

Handuk basah setelah dipakai mandi kadang aku main taruh dan letakin hihi. Jadi bukan suami yang melakukan kebiasaan buruk itu akan tetapi malah diriku. Nah apa harus kucerita ? 🤣

Mengasuh anak, suamiku lebih pintar dan lebih bisa menenangkan anak tanpa janji dan ancaman. Nah lho. Sedangkan aku banyak rentetan kalimat yang terlontar seperti busur yang dilepaskan. Cepat. Tanpa titik dan koma.

Memasak, nah suamiku pakarnya meskipun dia maunya makan masakan istri tetapi kadang beliau yang masak misalnya membuat nasi goreng, donat ataupun kue lainnya. Baik yang tradisional maupun modern dia jagonya.

Belum lagi memasak yang lain. Awal nikah aku tak tahu bumbu hihi. Ya tanya suamiku. Bagaimana resep, ukuran resep, cara memasak juga kutanyakan.

Bersih-bersih rumah, beliau rapi dan bersih kalau sudah beberes. Aku saja kalah 🤭 

Jadi saat ditanya bener kan kalau aku bingung mau cerita haha. Terlebih kalau aku sakit. Berbaring sajalah diriku tanpa melakukan apapun. Padahal biasanya ada jargon jika ibu yang sakit maka tetap saja ga istirahat. Entah. Suami tidak mempersoalkan hal tersebut. Beliau yang mengambil alih tugas rumah tangga dan mengasuh anak. Cuti yang dia ambil supaya dapat menjagaku dan anak saat kusakit.

Memang setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan meskipun kusadar kubanyak minusnya hihi. Memang berumah tangga bisa untuk saling bukan bersaing. Berkeluarga adalah niat bersama ya jalankan apa yang ada dan ditemui secara bersama pula. Mengerti dan perhatian serta komunikasi adalah dasar yang harus dimiliki setiap pasangan untuk keharmonisan rumah tangga dan kebahagiaan anak. (AH)





Selalu tersenyum dan mengucap syukur setiap ngobrol dengan Agha. Ada saja bahan yang diperbincangkannya padaku. Seringnya apa yang dilihat, didengar, dibaca baik yang dia tahu ataupun belum paham.

Pada waktu membicarakan masalah sunat. Agha usia 3 tahun saat itu. 

Agha : Mi, apa itu sunat tadi mas Ziya (anak tetangga) disunat?

Umi : (sambil berpikir) sunat itu untuk membersihkan t****.

Agha : Mas Agha mau sunat.

Umi : Benar ?

Agha : iya.

Di lain hari menyambung lagi mengenai sunat.

Agha : Mi, mas Agha tidak jadi sunat. Abi saja yang sunat.

Umi : 😜

Kemudian saat menyaksikan sepupunya sunat dengan metode lama bagaimana sepupunya menangis dan menjerit membuat Agha takut dengan kalimat atau kata "sunat".

Obrolan lain membahas mengenai kedelai yang mahal dan susah didapat.

Seru lagi pada waktu ada covid 19. Setiap yang datang ke rumah dia minta cuci tangan. 

Agha : dik, cuci tangan dan kaki. Maskernya mana ?

Ngobrol ke aku.

Agha : Mi, di luar banyak virus covid 19, kenapa ada virus? Bisa mati ya kalau kena?

Agha : Mi banyak ambulan itu yg sakit covid ya? Laki-laki atau perempuan? 

Agha : mi, mobil itu kenapa semprot semprot sih.

Dan banyak lagi🤭 

Melihat hujan pun bisa menjadi perbincangan yang seru dengan Agha.

Agha : Mengapa mi hujan turun ?

Agha : gludugnya kenceng.. 

Umi : Supaya manusia tidak kekurangan air. Kita main yuk proses terjadinya hujan.

Lalu aku buatkan proses terjadinya hujan secara sederhana dengan bahan yang seadanya yang penting menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti Agha.

Agha juga sering bercerita apa yang dia lihat. Misalnya sesuatu yang aneh maka akan dia tanyakan ataupun dia ceritakan.

Seperti negara di luar Indonesia yang dia kenal yaitu : Malaysia, Korea, Jepang, Arab, Inggris. Bahkan dia pernah ngajak ngobrol begini :

Agha : mi, mas Agha mau pindah ?

Aku : pindah kemana ?

Agha : inggris.

Aku : untuk apa ke Inggris ?

Agha : ya ketemu orang Inggris lah kan di Inggris.

Juga kalau Agha tiba-tiba bicara mengenai anaknya. Jadi selalu bilang mas Agha sudah punya anak.

Agha : umi, mas Agha punya anak dua cewek dan cowok. 

Aku : Anak apa ?

Agha : ya anak mas Agha lah. Nanti mas Agha kerja umi jaga anak mas Agha ya 

Aku : antara ingin tertawa atau tidak. 

Banyak lagi yang jadi bahan pertanyaan dan obrolan lucu dengannya. 

Allah yang mendidikmu ya Mas Agha. (AH)




 Rasa rindu yang membuncah di dada memang sudah menginginkan untuk disalurkan kepada yang dirindukan.

Keluarga yang berbeda jarak 8-12 jam dari Ibukota Jakarta, sebuah kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan batik, keraton dan serabinya.

Merindukan orang-orang yang selalu menerimaku apa adanya meskipun aku sedang jatuh dan terpuruk. Penerimaan dengan tangan terbuka tanpa syarat dan ketentuan apapun. Merekalah keluargaku dimana kuselalu bermanja dan dimanjakan.

Jika ada sayap mungkin sudah kuterbang ke kota kelahiran tanpa harus menunggu terkumpulnya pundi-pundi rupiah untuk sekedar membeli tiket kereta api ataupun bus. 

Terbang seperti burung yang bebas kemanapun. 

Sebenarnya bisa juga sih terbang meskipun tanpa sayap yaitu naik burung besi alias pesawat terbang 🤭  tetapi kan harus berkantong lebih tebal. 

Meminta sama Allah yang Maha Kaya itulah yang selalu kulakukan supaya kunihilkan saldo rindu dalam dada. Dia lah sebaik-baik pemilik rencana. 

Seandainya aku bisa terbang 

Seandainya aku punya sayap 

Itulah syair lagu yang saat ini kudendangkan hingga tak terasa beberapa butir air mata menetes. Memang menahan kerinduan itu suatu yang berat seperti kata Dilan hihi. 

Sayap yang kubutuhkan sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan beberapa lembar rupiah bergambar proklamator kemerdekaan Indonesia. Meskipun saat ini banyak moda transportasi yang memberikan diskon harga maupun pelayanan yang diberikan untuk penumpang sudah lebih baik. Bukan itu masalahnya tapi lebih karena banyak hal yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk membeli tiket.

Sayap yang kubentangkan harus semakin lebar supaya bisa menjalani hari-hari dengan menahan kerinduan. 

Ingat sekali kata guruku pada waktu itu : terbangkan tinggi setinggi cita-citamu. Nah, tidak membahas bagaimana terbang jika rindu mendera setelah terbang di kota yang jauh dari keluarga. 

Intinya sih jika berhasil di perantauan maka akan mudah terbang untuk memuaskan bertemu dengan keluarga, menihilkan saldo rindu dan bercanda ria dengan keluarga, saudara, teman dan handai taulan di kota kelahiran. 

Seandainya aku punya sayap,

Seandainya aku bisa terbang.

Yakin saja sama Allah.


Apakah yang dimaksud dengan keluarga? 

Menurut KBBI arti kata keluarga adalah : ke·lu·ar·ga : 1. ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah, 2. orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, 3. (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat, 4. satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Jadi keluarga ternyata bukan hanya yang ada dalam satu rumah yang biasanya terdiri dari : bapak, ibu dan anak.

Setelah menikah maka setiap pasangan itu juga menikahi keluarga dari pasangan yang artinya adalah kaum kerabat dari suami atau istri. 

Selain itu, setelah lulus sekolah maka kita merupakan anggota keluarga almamater tempat menimba ilmu. Bisa dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah tingkat pertama, sekolah menengah tingkat atas, universitas atau diploma dan tempat kursus. 

Eit, masih ada lagi ya. Jika mengikuti ektra kurikuler, les tambahan di luar sekolah, maupun klub hobi. 

Saat berkumpul maka disebutlah keluarga seperti keluarga pecinta anggrek, keluarga alumni SMKN 6 Surakarta angkatan 2020. 

Masih ada lagi tidak ? Yap masih ada. Jika sudah berumah tangga selain keluarga sendiri, keluarga besar pasangan juga keluarga tempat kerja, mengikuti atau menjadi bagian dari sebuah komunitas ataupun pertemanan itu juga dalam satu keluarga besar.

Jadi dalam satu diri kita harus berperan dan berbagi hati kepada masing-masing keluarga dimana kita berada atau bernaung. 

Kadang kita berpikir keluarga ya hanya yang berhubungan darah, ataupun kerabat dari suami atau istri meskipun porsi terbesar kita untuk setiap perhatian adalah keluarga inti kita. 

Keluarga yang inti kita adalah pasangan dan anak. Keluarga dari suami atau istri yaitu orang tua, saudara kandung. Dari hubungan ini saja memang kadang timbul suatu masalah dikarenakan adaptasinya semua anggota keluarga dengan orang baru yang mungkin berbeda karakter, gaya hidup, sifat maupun perilaku. Jika dalam hubungan antar manusia dalam satu keluarga ini sudah solid maka saat bermuamalah dengan keluarga (dalam tanda kutip) akan lebih pandai membawa diri, berkomunikasi maupun berinteraksi.

Begitulah kita dalam berperan dalam keluarga yang tidak hanya inti kita saja akan tetapi lebih dari itu. Belajar memahami, menjadi pendengar yang baik, berkomunikasi yang baik, dan bermuamalah sesuai ajaran agama maka kita akan dapat menjalankan peran dengan baik pula. (AH)


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Author

Author
Pembelajar yang suka tantangan, tapi agak takut mengambil resiko. Suka bertualang, terutama dengan anak lelaki kesayangan, dan menuliskannya ke dalam tulisan. Read more about me at "About Me" on the menu.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tarawih hari Pertama
  • Review Buku Khadijah
  • Jadul resepnya milenial rasanya
  • Berkelana dalam Lautan Ilmu Penulisan
  • Pejuang 2 Garis
  • Mobil Balon
  • Saldo Rindu yang Minus
  • Kabar dari Solo
  • Perjalanan Syukurku di 2021
  • BRImo Sebagai Bentuk Layanan dan Digitalisasi Bank BRI
Diberdayakan oleh Blogger

Laporkan Penyalahgunaan

  • Oktober 20251
  • Oktober 20241
  • Agustus 20241
  • Juli 20243
  • Juni 20242
  • November 20231
  • Oktober 20231
  • September 20231
  • Agustus 20232
  • Mei 202315
  • Maret 20231
  • Oktober 20221
  • September 20221
  • Agustus 20229
  • Juli 20222
  • Juni 20229
  • Mei 20229
  • April 20228
  • Maret 202213
  • Februari 202211
  • Januari 202219
  • Desember 20211
  • November 20218
  • Oktober 202113
  • September 202115
  • Agustus 202110
  • Juli 202113
  • Mei 202114
  • April 202127
  • Maret 202112

Trending Articles

  • Tarawih hari Pertama
  • Review Buku Khadijah
  • Jadul resepnya milenial rasanya
  • Berkelana dalam Lautan Ilmu Penulisan

Copyright © Foodicious Theme. Designed by OddThemes